Dua
Wanita itu . . . .
Selamat pagi dunia. Hari yang cerah untuk memulai aktifitas. Seperti biasa, sebagai anak rantauan, aku selalu memulainya sendirian. Aku memulai hari seperti biasa memasak air, mandi, menyeduh sariwangi celup yang kental, dan berangkat sekolah.
Langkah kaki yang penuh semangat, wajah yang selalu memancarkan kharisma, dan pandangan yang selalu menunjukkan wibawa yang selalu ada pada diriku. Aku terus mengayun langkah kaki ku hingga ujung gang kompek tembatku bersemayam. Aku menyebrang dengan hati-hati dan mencoba menunggu angkutan umum yang sedikit sepi.
Aku menundukkan kepala dan melihat tali sepatu yang berantakan. Akan tetapi sebuah langkah kaki yang anggun mengalihkan pandangan ku dan berpaling ke arah langkah kaki itu. Perlahan-lahan aku memandangi mahluk yang memiliki langkah kaki itu. Aku terus menatapnya dan terus menatapnya hingga aku mencoba tersenyum kepadanya. Ya Tuhan, dia membalas senyumanku dengan bibirnya yang indah. Dan diapun terus berjalan meninggalkan sisa senyuman yang tettempel di kelopak mataku hingga akhirnya i menghilang ditelan wanktu dan puing-puing besar yang ada disekitar jalan raya itu.
Oh tidak . . . metahari sudah mulai menatapku. Itu pertanda bahwa ia menyuruhku bergegas mencari angkutan umum dan segera beranjak menuju sekolahku. Sebuah benda kuning yang cukup sempit karena banyak penumpang di dalamnya menghampiriku. Dan aku bertanya kepada sang penahluk benda kuning itu arah dan tujuanku. Penahluk itu menganggukkan kepala dan aku segera masuk kedalam benda kuning yang tidak cukup mewah dan didalamnya pasti banyak mahluk-mahluk dengan karakter berbeda.
Siang yang terik dan tak bersahabat. Aku turun dari benda kuning yang berbeda dan menginjakkan kaki ku di depan gang komplek kontakanku. Emm , , bukan di depan tepat gang rumahku. Tapi kira-kira lewat 4 atau 5 meterlah. Lalu aku menyodorkan uang seribu rupiah kepada sang penahluk. Dan ia pun pergi bersama benda kuning itu. Aku mulai menginjakkan kaki ku gang rumahku dan sedikit demi sedikit meniti jejak bersama sang waktu.
Denting jam terus berbunyi dan mentari mulai menghilang dibalik puing-buing megah itu. Aku mencoba mematikan laptop ku dan segera beranjak dari rumahku. Langkah demi langkah turus aku ayuhkan dengan perlahan, mataku menatapi aspal-aspal hitam yang telah memudar, tangan ku masuk kedalam saku kantong celana ku. Sura lirrih menghampiriku dari belakang.
“ adek . . . . “
Aku menoleh kebelakan. Dan aku melihat seorang wanita telah berada tepat di belakangku. Dan entah mengapa aku tidak menyadari itu. Wanita itu tersenyum kepadaku dan aku mencoba tersenyum kepadanya dan mejawab sapaannya.
“ apa mbak . . . .”
“ nggak, Cuma missCall aja . . . “
“owh . . . oya mau kemana mbak . . . .”
“ mau ke minimarket depan . . . .”
“ oya . . . .”
“ iya . . . adek sendiri mau kemana . . . “
“ kebetulan aku mau ke minimarket juga . . . .”
“ owh ya udah kita bareng aja . . .”
“ emm . . . iya . .”
Kami berjalan berdua dalam ayunan kaki yang nyaris serentak. Suasana hening terjadi saat itu. Tapi aku mencoba membuka pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh.
“ o ya, mbak sekolah dimana si?” sebuah pertanyaan yang tidak perlu di jawab sebenarnya.
“ lha bukannya adek dah tau ya . . . .”
“ belum . . .”
“ emm . . . . masa sie . . .”
“ heheheheh . . .” aku menggaruk-garuk kepala ku dengan memberi pertanda bahwa aku berpura-pura. “ sebenernya udah sie mbak, aku Cuma pengen membuka pembicaraan ja, soalnya mbak dari tadi diem melulu . . .”
“ oalah . . gitu tho . . .”
“ ya begitulah . . .”
“ oya gimana kabar cewek adek . . .”
“ cewek yang kemaren , ,”
“ owh yang itu . . .”
“iya . . . “
“ udah putus mbak . . . .”
“ lho kenapa putus . . . “
Aku diam, dia diam dan langkah kaki terus kami ayunkan. Aku mencoba mengalihka pembicaraan.
“ o ya mbak, tante kemana kok beberapa hari ini ga kelihatan . . “
“ emm , , mau ngeles ya . . .”
“ enggak . . .”
“ hmm . . . boong . . .”
“ bener . . “ aku mengangkat kedua alisku.
Dia mengernyitkan mukanya bertanda bahwa ia tidak percaya dengan jawabanku. Dan dengan terpaksa aku menjawab yang sejujurnya.
“ iya . . . iya . . . “
“ nha kalo gitukan enak . . .”
“ iya deh asal mbak seneng aja . . .”
“ oya pertanyaan yang tadi belum di jawab tuh . . .”
“ yang mana . . “
“ pura-pura ga tau apa emang ga tau . . .”
“ pura-pura ga tau . . .”
“ kalo gitu jawab dong . . apa perlu mbak ulangi pertanyaannya . . .”
“ iya deh . . aku putus ma doi karena aku denger-denger dari temen aku doi selingkuh di belakang akau . . .”
“ trus kamu percaya aja ma temen kamu . . .”
“ iya . . .”
“ kamu ga coba cari tau yang sebenernya dulu . . .”
“ males akh . .”
“ tu kan penyakit kamu ga ilang-ilang dari dulu. . .”
Lalu kami diam terpisahkan oleh minimarket yang penuh dengan makanan itu. Aku mengmbil barang yang aku butuhkan secukupnya dan aku menebusnya di kasir. Mbak itu sedang sibuk mencari barang-barang yang ia cari. Dan aku mencoba menunggunya. Dan akhirnya ia menemukan barang yang ia cari lalu menebusnya di kasir. Aku bersama wanita itu kembali melangkahkan kaki menuju gang rumahku.
“ oya mbak . . . kenal ma cewek yang pake kaca mata yang sering lewat depan jalan ini ga . . .”
“ yang mana . . .”
“ yang itu . . . yang tinggi kalo pergi sekolah dia selalu memeluk buku . . .”
“ owh . . . wanita itu, kebetulan mbak satu sekolahan ma dia . . .”
“ owh . . . dia kelas berapa mbak . . .”
“ sama kayak kamu . . .”
“ maksud mbak . . .”
“ la kamu kelas berapa . . .”
“ kelas 2 . . .”
“ya berarti kalo sama ama kamu dia kelas berapa . . .”
“ kelas 2 . . .”
“ nha itu pinter . . .”
“ menurut mbak dia cantik ga . . .”
“ kenapa tanya kayak gitu . . .”
“ ga Cuma tanya aja . . .”
“ hmm . . . kamu naksir ya ma dia . . .”
“ nggak . . .”
“ alah ngaku deh . . . tuh kelihatan dari hidungmu yang kembang-kempis . . .”
“ hmm . . . sebenernya iya si . . .”
“ hahahahaha . . .” wanita itu tertawa dengan ciri khasnya sebagai cewek yang tomboy dan tawanya membuatnya semakin cantik.
“ mau mbak bantuin ga . . .”
“ emm . . . beneran nih . . .”
“ menurut kamu . . .”
“ iya . . .”
“ iya apanya . . .”
“ iya kalo mbak mau bantuin aku . . .”
“ hmm . . . kamu mau nomer ponselnya . . .”
“ boleh . . .”
“ aduh . . .” Wanita itu memukul keningnya.
“ kenapa mbak . . .” aku mengangkat kedua alisku.
“ mabk lupa kalo mbak beru ganti ponsel . . .”
“ trus . . .”
“ ya contact-contact yang ada di ponsel lama mbak ga adalah di ponsel baru mbak . . .”
“ jadi mbak ga ada nomernya gitu . . .”
“ hehehe . . . iya” wanita itu menunjukkan giginya.
“ yah . . .”
“ ehmm . . . kamu tenang aja, mbak bakal mintain nomernya . . “
“ beneran . . .”
“ ya iya lah . . . mbak kan da janji mau bantu kamu . . .”
“ thanks ya mbak . . .”
“ iya . . .”
“ ya udah mbak aku duluan ya . . .”
“ iya . . .”
“ mampir yuk mbak . . .”
“ aduh maaf, mbak harus cepet pulang . Soalnya mama ga ada dirumah . . .”
“ owh ya udah . . . hati-hati aja deh kalo gitu . . .”
“ iya . . .”
Aku membuka gerbang dan segera kembali ke kontrakanku tercinta. Bayangan wanita berkacamata itu terus menghantuiku. Hingga detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari dan akhirnya minggu berganti minggu. Aku tak juga mendapatkan berita dari mbak yang baik itu dan aku tidak dapat menatap wajah wanita itu. Beberapa minggu ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Mungkin karena aku berangkat terlalu siang atau mungkin aku jarang ke minimarket karena uang ku menipis. Dan akhirnya sedikit demi sedikit aku melupakan wanita itu. Dan ku ucapkan selamat jalan sang dewi . . . . .