Tiga
“Hitam itu manis . . . . . .”
Selamat pagi dunia, semoga kabarmu baik-baik saja. Hari ini cerah sekali. Seolah hari ini mengajak kita untuk beraktivitas dengan semangat dan denga ikhlas. Aku terbangun dari kasur dan kekasihku yang selalu menemani ku tidur. Oh ya, aku lupa mengenalkan kekasihku. Namanya “Bagu” alias “ bantal guling”. Dia itu baik baget. Tapi sayang dia Cuma benda mati. Hmm , , tadi ampe mana ya. Oh ya, hmm . . gini. Seperti biasa, setelah meninggalkan kasur dan bagu, aku selalu memasak air dan kemudian mandi dan kemudian lagi aku menyeduh sariwangi celup.
Langkah demmi langkah terus aku ayuhkan ke depan. Aku melewati banyak puing-puing besar yang begitu megahnya. Terus berjalan . . . berjalan . . . berjalan . . . dan berjalan. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gang komplek kontrakanku. Aku menyebrangi jalan raya yang ramai itu bersama beberapa orang yang taka ku kenal. Aku tegak di pinggiran jalan raya itu dan memasukkan kedua tanganku di kantong celana abu-abu ku. Lagi-lagi benda kuning bersama sang penakluk menghampiriku. Aku segera menginjakkan kaki di ruangan yang cukup sempit dari badan si kuning itu. Sikuning terus berjalan dengan gaya khasnya yang sedikit-sedikit berhenti. Kalo ga ngembil penumpang ya nurunin penumpang. Aku hanya bisa bersabar menunggu si kuning bersama sang penakluk menurunkan aku di depan sekolahku. Aku terus memandangi jalanan-jalanan yang ramai dari jendela kecil di tubuh si kuning itu. Dan tak lama kemudian aku menyuruh sang penakluk meminggirkan si kuning. Lalu aku turun dari si kuning dan menyodorkan uang seribu rupiah kepada si penakluk.
Hmm . . . suster kepala sekolah bersama guru-guru yang lain telah menunggu di depan gerbang menyambut siswa-siswi yang datang. Hal ini lah yang aku senang dari sekolahku. Semua guru menunjukkan kedisiplinannya kepada siswa. Mereka selalu datang sebelum siswa-siswi mereka datang. Hal ini tidak pernah aku rasakan di sekolah Negeri di kota ku. Hmm . . . lalu aku menghampiri suster kepala sekolah dan guru-guru lain untuk menyalaminya satu persatu. Lalu aku menginjakkan di lobby sekolahku dan akhirnya aku menginjakkan kaki di kelasku yang selalu bersih dan rapi itu.
“ selamat pagi anak-anak . . . “
Guru itu masuk di kelasku dan kami semua belajar dengan suka cita. Halaman demi halaman kami bahas bersama, soal demi soal kami kerjakan dengan tenang. Dan tiba-tiba seorang wanita masuk kedalam kelasku dan ia menyebutkan beberapa nama yang harus menghadap kepada suster kepala sekolah. Aku mendengar namaku disebutkan oleh wanita itu. Aku segera tegak dari kursi ku, dan melangkahkan kaki menuju pintu kelas. Aku menghadap suster kepala sekolah berasama teman-teman dengan rasa yang was-was. Dan ternyata, aku bersama teman-teman hanya di pilih sebagai wakil dari sekolah untuk mengikuti karnafala HUT kota. “Dengan senang hati aku akan mengikutinya” fikirku dalam hati.
Detik berganti detik, menit berganti menit, dan jam pun bergenti jam. Hari ini aku akan mengikuti karnaval. Si kuning telah disiapkan, semua yang di tunjuk bergegas memasuki si kuning itu. Aku duduk di baris paling akhir. Dan sekian lama duduk di atas putaran roda, akhirnya kami semua sampai pada tujuan. Dan mungkin boleh dibilang kami sedikit terlambat. Semua orang yang ada disitu terus berjalan. Aku den temanku terus meninggalkan jejak langkah kaki dan kemudian jejak itu terhapus oleh jejak-jejak orang yang ada di belakang kami. Suasana yang cukup pas untuk selengean. Dan pada momen itu aku mencoba sedikit bertingkah.
“ bat gabung dengan cewek-cewek didepan yuk . . .”
“ akh males . . .”
“ kenapa . . .”
“ malu . . .”
“ malu . . .”
“ ya . . .”
“ emang cewek-cewek di depan ini dari mana si . . .”
“ ga tau . . .”
Aku diam da dia diam . lalu suara lembut terdengar dari wanita sebelahku yang menoleh ke arahku.
“ dari artis safari indonesia . . .”
Aku menoleh kearahnya dan menatap matanya. Matanya indah bagaikan mutiara yang tak terniai harganya, aku memandang bibirnya yang begitu sexy.
“ owh . . . dari artis safari Indonesia tho . . .”
Aku kembali diam dan rasanya sangat tidak enak sekali. Dan entah karena angin apa wanita itu membuka pembicaraan.
“ kalian dari mana . . .”
Dia bertanya kepadaku dan menatap mataku. Aku menjawabnya dan kemudian aku bertanya kepadany dan ia pun menjawabnya. Hingga akhirnya kami diam . . . diam . . . dan . . . diam. Dia mulai membuka pembicaraan dengan temanku yang ada di sebelahku. Aku masih tetap membisu berpura-pura tidak perduli akan semua yang mereka bicarakan. Kami terus berjalan melaangkahkan kaki dengan sedikit lesu. Hari yang panas, suara berisik kendaraan bermotor, dan suara berisik manusia-manusia yang ada seolah membuatku penak dengan semua ini. Aku masih terus membisu hingga akhirnya aku mendengar mereka membicarakan aku. Dengan nada yang lirih.
“ kenapa si temen kamu yang satu itu diem aja . . .”
“ masa si . . .”
“ iya . . .”
“ sakit kali . . .”
Tiba-tiba mereka berdua kembali senyap dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“ kenapa si diem terus . . .”
Aku berpura-pura tidak mendengarnya. Aku terus berjalan menapakkan kaki ku.
“ hey . . .” dia menepuk pundakku.
“ emm . . . iya . . .” aku sedikit gugup menatap matanya.
“ kenapa kok diem terus . . . sakit . . .”
“ emm . . . ga . . . Cuma ga tau aja mau ngomong apa . . “
“” kok gitu . . .”
“ yah biasa lah . . .”
“ biasa kenapa . . .”
Aku kembali terdiam. Tapi bukan karena aku tidak mau bicara lagi dengannya. Aku hanya memilih kata-kata yang pas untuk aku ucapkan.
“ emm . . . ya mungkin aku gugup deket kamu”
“ gugup knapa . . .”
“ ya kamu kan cantik . . .”
“ kamu juga ganteng kok . . .”
“ akh . . . ga usah bercanda . . .”
“ siapa yang bercanda . . .”
“ kamu . . .”
“ ya emang bener kok kamu ganteng . . .”
“tapi aku kan item . . .”
“ item itu manis kok . . .”
Aku langsung terdiam oeh amunisi yang di lancarkan ke arahku oleh wanita itu. Seolah-olah wanita itu menguasai situasi saat itu. Aku hanya bisa merasakan berjalan diatas awang-awang. Aku memilih kata-kataku dan melancarkan serangan kepada wanita itu.
“ kamu tinggal dimana . . .”
“ LB . . . kamu . . .”
“ skip . . .”
“ owh skip ya . . .”
“ boleh ga kapan-kapan aku main ke rumah kamu . . .”
“ boleh aja . . . aku . . .”
Aku mengernyitkan kepalaku pertanda aku tidak mengerti apa yang ia maksud.
“ ya maksudnya boleh ga aku mein juga kerumah kamu . . “
“ owh . . . ya boleh lah. Apa sia yang ngga buat kamu . .” dia membuang muka dan tersenyum. Aku rasa aku telah membalas serangannya. Poin sekarang 1-1. aku harus menambah angka untuk menjatuhkannya.
“ o ya . . . boleh minta nomer hp-nya ga . . .”
“ untuk apa . . .”
“ ya siapa tau kita bisa saling lebih mengenal . . .”
“ trus kalo dah saling lebih mengenal . . .”
“ ya siapa tau kita bisa jadian . . .”
Dia kembali membuang muka dan tersenyum. Lagi-lagi aku menang atas dirinya.
“ giaman ada ga . . .”
“ ada . . .”
Dia menyebutkan angka demi angka. Sedangkan aku sibuk menekan tombol-tombol kecil di ponselku.
“ thanks ya . . .”
“ kamu . . .” ia sambil menyodorkan ponselya kepadaku.
“ apa . . .”
“ ya aku minta nomer kamu juga . . .”
“ emm . . . ntar aku Mc kamu ja . . .”
“ bener ya . . .”
“ iya . . .”
Aku terus mencoba untuk selalu berjalan di dekatnya. Aku menatapnya, dan terus menatapnya. Dia itu memang cantik. Semua terlihat dari raut wajahnya yang begitu lembut. Satiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dan sekarang adalah waktunya untuk berpisah. Dia melambaikan tangan kepadaku dan akhirnya menghilang dibalik kerumunan manusia yang begitu banyaknya. Sampai nanti wanita cantik . . .