Blognya Sudibyo Pujo Wiyono

Berlari Mencoba meraih Mimpi

KE LiMa

Lima

Lucky Soon . . .

“ hallo . . .”
“ emm . . . hallo . . .”
“ ada apa deb . . . “
“ emm . . . g . . .”
“ massa si ga da apa-apa . . .”
“ sebenernya ga gitu si . . .”
“ trus . . .”
Aku diam seolah aku dalam keadaan yang sangat terdesak. Aku mengerutkan keningku dan menatapi jalanan yang mulai sepi. Angin malam yang begitu dingin, gemerising air got, bau limbah pabrik seolah tak lagi aku rasakan. Aku terus memutar otakku dan sepertinya kali ini aku harus jujur.
“ hallo ada orang ga di sana . . .”
“ emm . . . iya ada la . . .”
“ oh . . kirain ga ada . . .”
Aku diam, suara yang jauh disana diam pula.
“ deb . . .”
“ ya . . .”
“ sebenernya tujuan kamu telfon aku ada apa . . .”
“ ehmm . . . gimana ya . . .”
“ huft . . . jadi co kok ga bisa ngomong . . .”
“ bukanya gitu . . .”
“ trus . . .”
“ aku yakin kamu da tau tujuan aku . . . kamu tau dari mbak mely kan . . .”
“ sebenernya iya . . . tapi aku pengen denger langsung dari kamu . . .”
“ owh ya ud . . .”
“ ya ud apa . . .”
“ aku bakal bilang ma kamu . . .”
“ ya cepet . . .”
“ tujuan aku telfon kamu ap ya . . .”
Aku diam lagi dia juga diam. Kami terlarut dalam suasana.
“ aku mau pedekate ma kamu . . . boleh kan . . .”
Dia diam . . .
“hallo . . . boleh ga . . .” aku menekankan pada kata hallo. Tapi dia tetap diam . . .
“hey . . .”
“ emm . . . iya . . . dengan senang hati . . .”
“ ehmm . . . beneran ni . . .”
“iya . . .”
“thanks ya da kasi kesempatan untuk ak . . .”
“ ehmm . . .”
Aku mematikan telfon dan kemudian memandangi lagit luas. Denting jam terus berbunyi, suara air got terus terdengar, bau limbah pabrik makin menyengat, dan udarapun ikut berpatisipasi mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku beranjak dari tempat tidurku dan menyalakan laptopku. Suara dan deringan ponselku berbunyi pertanda pesan masuk. Aku membukanya dan membacanya. Ternyata dari wanita itu . . . dia mengajakku bertemu besok. Segera aku membalasnya dan menuliskan beberapa karakter pertanda aku setuju. Tubuh yang lelah, dan mata yang seolah tak kuat untuk ku buka lagi mnegajakku berselancar ke dunia mimpi.

Kembali lagi ke alam nyata yang penuh sesak dan panas. Aku terus melangkahkan kaki menusuri jalanan panas dan menatapi fatamorgana yang terus ku lalui bersama sang waktu. Hari ini jam 5 aku bakal ketemu ama wanita itu. Aku menyiapkan mentalku untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Aku menata rambut dan menyiapkan pakaian yang akan ku pakai nanatinya. Aku yakin aku akan berhasil meluluhkan hati wanita itu. Karena aku tau aku adalah Lucky Boy.
Jam 3, aku terus menata rambutku dan begaimanapun, aku tidak akan menemukan gaya rambut yang sesuai dengan aku. Aku kembali membuka teman curhatku. Aku memasang benda kecil untuk berselancar ke dunia maya dan membuka blog yang selalu mengisahkan tentang aku. Tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 4 sore. Aku bergegas ke kamar mandi dan mengguyur sekujur tubuhku dengan ayunan air dalam gayung yang cukup berat.
Pakaian dan semua souvenir sudah terpasang dengan rapi. Dan sekarang saatnya menata mental dan keberanian. Aku mencoba melakukan pernapasan beberapa kali. Hmm . . . akhirnya keberanianku terkumpul juga. Aku melangkahkan kaki menusuri jalanan sempit menuju suatu tempat yang sudah kami janjikan. “Taman” begitu semua orang disini menyebutnya. Karena rumahku dekat dengn taman, aku tidak perlu waktu lama untuk tiba pada tujuan. Aku langsung duduk di tempat yang ia minta. Aku menunggu wanita itu dengan dengan penuh kesabaran. Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Hmm . . ga ssegitunya kali ya. Lagi-lagi aku melihat langkah kaki anggun itu. Langkah kaki itu terus mendekat . . . . mendekat . . . dan mendekat . . . aku hanya menatapi langkah kaki itu tanpa sedikitpun menoleh kewajah atau bagian mana saja yang dimiliki wanita itu. Ia menghapiriku dan pada saat itulah aku mencoba menatap wajahnya. Matanya sungguh indah sekali, kacamatanya yang membuatnya semakin cantik, dagunya yang begitu menawan, dan bibirnya yang sexy. Semua mangingatkan aku akan masa lalu.
“ hey . . . “
Aku diam membisu tak dapat berkata apa-apa sembari menataapi wajah wanita itu. Dia benar-benar cantik.
“ hey . . .” dia menepuk pundakku. . .
“ ehm . . iya . . .”
“ kok liatin aku segitunya . . .”
“ emm . . . ga papa . . .”
“ ada yang aneh ya ma aku . . .”
“ ehm . . . g kok . . . kamu cantik . . . banget malah . . .” aku menekankan pada kata “banget” dengan mengeryipkan mata ku. Dia tersenyum kepadaku. Jika kamu ada disitu, mungkin kamu akan berpendapat sama denganku. Senyumannya manis sekali. Aku suka itu, aku suka semua yang ada padanya.
“ ah masa si . . .”
“iya . . .”
“ hmm . . . gombal . . .”
“ekh . . . bener lagi . . .” dia mulai salah tingkah setelah aku mengatakan itu.
“ ehmm . . thanks ya . . .”
Aku diam, dia diam, waktu diam udarapun seolah diam dan semua selalu diam. Diam . . . . diam . . . . diam . . . dan diam.

1 Komentar»

  Cha_Vie wrote @

ada artikel ttg Multikultural gak???


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.