Blognya Sudibyo Pujo Wiyono

Berlari Mencoba meraih Mimpi

yang Ke-4

Empat

Antara dia dan dia . . .

Terik matahari yang begitu menyengat, udara panas yang tak bersahabat, bau badan yang begitu tidak enaknya, rasa lelah yang tak tertahankan dan detak jantung yang tak menentu berapa detakan per menitnya. Semua membuatku penak dengan hidup. Langkah kaki kecil terus ku ayuhkan ke depan dan tanpa pandang bulu aku selalu menendang apapun yang menghalangiku berjalan.
Berjalan terus melangkahkan kaki dan terus melangkahkan kaki menuju rumah kontrakanku tercinta. Pintu warna merah telah menanti untuk di mesukkan kunci dan kemudian dibuka. Hmm . . tepatnya bukan merah kali ya . . . tapi merah hati . . hmm . . . bukan itu juga si. Mungkin boleh dibilang mendekati coklat atau hitam. Tapi apapun warnanya itu ga penting untukku. Sepatu bersama kaos kaki bau aku lepaskan dari kaki ku yang telah memucat. Mungkin kaki ku butuh penyegaran sedikit saja. Dengan semangat aku menuju kamar madi dan mengambil segayung air bersih dan akhirnya ku siramkan ke kaki ku yang pucat itu. Aku mengulanginya hingga beberapa kali dan kemudian aku ambil sabun mandi untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada di kakiku. Kembali aku menyiram kaki ku dengan beberapa gayung air bersih hingga beberapa kali. Rasa lapar melanda perutku yang begitu malang. Melihat nasi dan lauk yang tidak ada di meja makan kontrakanku. Tidurlah satu-satunya jalan menghilangkan rasa lapar itu. Aku menatapi spray kasurku yang telah kusam dan bau, bantal yang sudah sangat bau, dan sarung yang sudah lama tak dicuci. Sedikit demi sedikkit aku mendekati kasur itu dan dan memasrahkan diriku pada kasur itu. Aku melayang bersama waktu mengintari alam yang tak jelas.
Sebuah langkah kecil terdengar di depan rumahku dan tiba-tiba langkah itu berhenti dan pintu yang reot itu di gedor oleh seseorang yang akupun belum melihatnya.
“ adek . . .adek . . .” suara itu . . . aku seperti mengenalnya. Tapi aku mencoba tak menghiraukannya. Suara kedoran pintu dan suara itu terus terdengar semakin keras. Aku bergegas beranjak dari kasurku dan mencoba mendengarkannya lagi. “ adek . . . .Adek . . . .” suara itu semakin jelas. Dan ternyata aku tidak bermimpi. Aku menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Dan ternyata mbak cantik itu lagi. Segera mungkin aku menyapanya.
“ ada apa mbak . . .”
“ nih . . .” ia sambil menyodorkan sebuah paket dengan dua buah rantang yang isinyapun aku tak tahu.
“ apa ni mbak . . .”
“ udah ambil aja . . .”
Aku segera mengambil barang yang diberikan oleh wanita itu.
“ oh . . ya dek ini no cewek yang kemaren adek minta . . .” ia sambil memencet-mencet tombol yang ada di benda mungil itu.
“ mana . . . mana . . .” aku juga sibuk mengambil ponsel di kantongku dengan tangan yang satunya.
“ ini . . .”
Aku memasukkan nomor ponsel wanita itu.
“ hmm . . . ud belum . . .”
Aku diam sejenak fokus terhadap benda yang banyak menelan uang jajanku itu. Mulutku komat-kamit seperti dukun yang kehilangan pamungkasnya dengan mata yang melirik sana-sini menyocokkan nomor ponsel itu.
“ hmm . . . makasi ya mbak . . .”
“ ehm . . . iy . . .”
“ emm . . . ak pindahin dulu ya mbak . . .”
“ hmm . . . ntar ja dek . . . kalo da habis baru di balikin wadahnya . . .”
“ iya deh kalo gitu . . .”
“ met pedekate ya dek . . .”
“emm . . . iya . . .”
“ mbak doain biar sukses deh . . .”
“ thanks ya mbak . . .”
“ iya . . . ya udah mbak pulang dulu ya . . .”
“ iya . . . thanks ya untuk makanannya . . .”
“ hmm . . . iya . . . oh ya . . . jangan lupa dimakan ya. . .”
“aman . . .”
Wanita itu terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang panas dengan sendal swalownya yang sudah tipis. Aku segera kembali kedalam dan menghabiskan semua makanan itu. Opor ayam dengan daging paha yang begitu lezat.
Hmm . . . akhirnya perutku tenang juga. Aku mengambil ponselku dan melihat-lihat daftar nama yang ada di ponselku. Aku mulai bingung dengan apa dan siapa yang harus aku deketin duluan. Dua wanita yang sama-sama aku suka. Aku berjalan mondar-mandir seperti orang yang kehilangan arah. Mataku menatapi langit-langit rumah kontakanku seolah-olah lagit-lagit itu akan runtuh. Aku pusing . . . .pusing . . . pusing . . . pusing sekali. Aku bahkan tak tau siapa yang benar-benar aku suka. Aku tiak tau siapa yang harus aku pilih. Hmm . . . sebenernya aku juga ga yakin si mereka suka ma aku. Lagian mereka juga belum terlalu mengenalku kan. Suatu ide nakal terbesit di kepala ku. “ sekali dayung, satu sampai dua pulau terlampaui”. Mungkin kata pepatah itu yang meracuni pikiranku untuk memilih keduanya. Hmm . . . i hope you lucky soon . . . .

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.